HARIAN NUSANTARA, BANDUNG – Sungguh miris salah satu rumah warga dijadikan aktivitas peredaran obat keras, oleh beberapa oknum TNI dan Brimob. Ditemukan kegiatan tersebut berada di jl Raya Bandung-Garut no 20 Citaman. Kec. Nagreg Kab. Bandung, pada Kamis (26/3/26).
Berdasarkan maraknya informasi yang beredar luas diwilayah jl raya Bandung-Garut terkait peredaran obat keras type G dll, wartawan hariannusantara.co.id saat dilokasi mencoba menggali informasi tersebut langsung kelokasi, pada Jum’at (20/3/26).

Saat dilokasi ditemui sosok oknum sebut saja Andre dirinya menyambut baik kedatangan wartawan HARIAN NUSANTARA dan kami pun mencoba berkomunikasi, dan Andre pun menjelaskan bahwa kegiatan yang dilakukan semata hanya mencari nilai lebih saja, jelasnya.
Dan kamipun mencoba menanyakan apakah pak Andre anggota, tegas jawabnya IYA, izin dari kesatuan mana kang, saya dari 330 sini kang, kalau boleh tahu kegiatan ini milik siapa kang Andre, tanya wartawan HARIAN NUSANTARA.
Selanjutnya, Andre mengatakan bahwa kegiatan ini milik mba noni, boleh minta kontaknya bang, saut Andre kepada wartawan, ohh boleh, dirinya langsung memberikan kontak wartawan tersebut kesosok yang bernama noni.
Tidak lama kemudian komunikasi pun terjalin, hanya saja bukan mba noni yang dimaksud Andre, melainkan sosok lelaki yang bernama raja, dirinya menjelaskan kita sama-sama saja bang jika abang dari media juga, ungkapnya.
Lanjut komunikasi dengan raja melalui handphone Andre, bahwa raja menjelaskan bahwa dirinya juga dari salah satu media kompas.id, terus maksudnya gimana nich kang raja, jawab wartawan HARIAN NUSANTARA saat dilokasi.
“Apakah kegiatan ini sudah benar kalian lakukan dengan gagahnya kang raja menjalskan akang raja dari media kompas.id,” tegas disampaikan wartawan HARIAN NUSANTARA saat dilokasi.
Raja pun menerangkan, “bukan begitu bang, kita sama-sama sajalah, catat kontak saya dan kirim no cantiknya,” ungkapnya.
Ironisnya kegiatan peredaran tersebut dilakukan saat warga/masyarakat sedang melakukan ibadah sholat Jum’at, sungguh miris bukan, apakah APH setempat sudah optimal dalam menjalankan tugas serta fungsinya. Hal ini menjadi pertanyaan yang berkembang di masyarakat luas.
Sosok oknum tersebut sangat disanyangkan, bukannya yang seharusnya melindungi serta menggayomi warga/masyarakat nya malah ikut serta melibatkan diri dalam kegiatan yang jelas jelas melanggar ketentuan serta dapat merusak generasi muda yang ada disekitar nya.
Dikutip dari Eksposelensa.com pada Selasa (24/2/26), wartawan tersebut juga sempat kelokasi dan bertemu langsung dengan oknum yang bernama Rizal dan secara terbuka juga dirinya menyampaikan bahwa bisnis tersebut telah berjalan selama satu tahun lamanya.
Ia juga bahkan membeberkan daftar obat-obatan keras yang diperjualbelikan beserta harganya. “Tramadol Rp5 ribu per butir, Double Y Rp10 ribu per 4 butir, dan Eximer Rp10 ribu per 4 butir,” ujarnya.
Rizal juga mengungkapkan bahwa omzet per hari pada bulan Ramadan mengalami penurunan dari hari biasa. “Untuk omzet di bulan Ramadan berkurang dari hari biasanya, berkisar Rp8 juta per hari,” tambahnya.
Lebih mengejutkan lagi, Rizal mengaku “dirinya telah melakukan koordinasi dengan lingkungan sekitar serta oknum dari Polsek Nagreg untuk melancarkan usahanya. Ia juga menyebut selama Ramadan operasional dimulai pukul 11.00 WIB hingga 23.00 WIB.”
Tak hanya itu, di lokasi tersebut disebut-sebut terdapat tiga oknum anggota TNI dan satu oknum Brimob.
Pernyataan tersebut tentu menimbulkan tanda tanya besar terkait pengawasan dan penindakan aparat penegak hukum di wilayah Kabupaten Bandung.
Jika benar adanya, dugaan keterlibatan oknum aparat menjadi tamparan keras bagi institusi yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam pemberantasan narkotika dan obat-obatan terlarang.
Ternyata informasi yang didapatkan oleh awak media sudah sangat jelas dan sama, tentunya ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) buat kesatuan TNI AD 330, bahwa adanya oknum prajurit yang mencoba mencederai institusi dengan sikap yang tidak terpuji, awak media juga yakin bahwa pimpinan kesatuan tersebut pastinya tidak mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh oknum bawahanya.
Sampai berita ini tayang, wartawan HARIAN NUSANTARA belum mendapatkan keterangan resmi dari APH baik Polsek, Polres setempat juga Kelurahan begitu juga Kecamatan serta tokoh-tokoh Agama yang ada diwilayah tersebut, sungguh sangat disayangkan lokasi tersebut juga sangat dekat dengan pesantren ternama, namun kegiatan tersebut masih tetap berjalan bak kebal akan hukum hanya untuk mengejar cuan. By tim
