BOGOR, HARIAN NUSANTARA.co.id – Mahalnya harga daging sapi dimanfaatkan sejumlah pihak untuk meraup keuntungan menjual daging sapi busuk, di sejumlah pasar tradisional, Minggu 22 Februari 2026.
Adanya kegiatan aktivitas di wilayah ‘Kecamatan Cibungbunglang,’ tempat penampungan daging sapi beku (gudang) yang didapat dari india (impor), tentunya ini menjadi catatan penting pemangku kebijakan atau Dinas terkait guna dilakukan pengawasan serta pengecekan berkala.
Menurut nara sumber, Gugun (32) saat dikonfirmasi, dirinya menjelaskan “bahwa daging sapi ini, kami dapat dari India (impor) dan kami kemas kembali, setelahnya kami jual kesejumlah pasar.”
Kalau saya disini hanya melakukan pengiriman saja kepasar-pasar, “diantaranya pasar ciampea, lw liang, jonggol serta sukabumi,” jelas Gugun saat dikonfirmasi oleh awak media dilokasi.

Kegiatan biasanya kami lakukan pagi menjelang siang sampai dengan sore hari, berhubung pemilik atau onwernya sedang umroh, sekarang ini kegiatan tidak tentu jam nya.
Selanjutnya, kata Gugun “kalau tempat penampungan daging sapi ini, masih satu cabang dengan yang ada dilokasi depan, gudang atau penampungan daging tersebut masih milik Nuryadi,” ungkap Gugun.
Saat dilokasi kamipun dihubungkan dengan pelaku usaha (Nuryadi) melalui seluller mengunakan handphone milik gugun, dan salah satu rekan kamipun melakukan komunikasi dengan Nuryadi.
Dan kami diarahkan agar menunggu dirinya kembali dari giat umrohnya, untuk komunikasi darat, kurang lebihnya awal bulan maret dirinya (Nuryadi) baru akan kembali dari giat umroh nya, tuturnya Nuryadi.
Sementara kegiatan masih terus beroperasi, tanpa adanya pengawasan dari Dinas maupun pihak lainnya yang terkait.
Hal ini perlu diwaspadai oleh masyarakat. Pasalnya kemungkinan oknum pedagang melakukan kecurangan mengoplos daging beku dengan daging segar.
Ditambah dengan kondisi jelang lebaran idul fitri, harga daging segar akan mengalami kenaikan. Kemudian permintaan dari masyarakat ikut naik.
Karena tingginya harga daging segar saat memasuki idul fitri, memungkinkan para pedagang nakal di pasar tradisional untuk mengoplos daging segar dengan daging beku yang harganya relatif lebih murah.
Sebagai informasi, “kondisi daging didapati sudah dalam kondisi berbau dan kering. Kondisinya sudah tidak layak dijual. Oleh karenanya kami menginformasikan hasil temuan tersebut ke pihak berwajib (APH) diwilayah cibungbunglang, untuk dilakukan pemeriksaan/pengecekan.”
Perlunya kewaspadaan dilakukan dengan memahami ciri-ciri antara daging segar dan daging beku. Daging beku yang dijual layaknya daging segar di pasar tradisional akan terasa dingin dan warna daging lebih gelap. Sementara daging yang diperoleh dari pemotongan pada hari itu terlihat lebih segar dan hangat.
“Sebenarnya kalau konsumen cerdas bisa melihat dengan jelas perbedaannya.”
